Persis vs Gaya Sendiri

Saya lahir di tahun 80-an, otomatis saya juga melewati masa tahun 90-an. Selama itu saya banyak melewati sebagai anak band yang manggung sana-sini dan ikut festival di sana-sini.

Sampai sekarang saya masih anak band, tapi sudah jarang nge-band karena sibuk kerja. Yah, nge-band bukan saya jadikan profesi. Saya lebih pilih menjadi pehobi dan penikmat saja. Yang penting hepi. Toh saya pun sering dapat rezeki dari hobi ini.

Dulu, membawakan lagu rock sudah jadi makanan saya. Bukan jemawa, tapi memang kebetulan teman-teman, kakak, dan tante saya memang menggemari musik rock. Saya tertular. Akhirnya saya memilih lebih sering membawakan lagu-lagu God Bless, Boomerang, GnR, Europe, dll.

Masalahnya, waktu itu menyanyi dengan gaya sendiri malah dianggap jelek. Yang bagus adalah kalau bisa menyanyi ataupun memainkan lagu persis dengan aslinya. Berat memang, tapi memang karakter saya bukan seorang peniru. Saya nyanyikan lagu rock menurut gaya saya, meskipun waktu itu saya bisa menjangkau nada-nada tinggi. Bukan karena tidak bisa, tapi saya rasa lagu itu tidak cocok jika saya bawakan persis dengan karakter suara saya yang cukup berbeda. Cengkok dan nada saya sesuaikan dengan kemampuan hati saya. Toh saya tidak berusaha merusak lagu itu.

Saya masih ingat, waktu itu ada vokalis sebuah band. Kalau tidak salah, nama orang itu adalah Besek. Dia dipuja-piji banyak orang karena suaranya sangat mirip dengan Axl Rose, vokalis GnR. Pembawaan, cara berpakaian, hingga aksi panggungnya sangat mirip. Ini yang sangat dikagumi. “Wedyan, sangar tenan..!” kira-kira seperti itu salah satu pujiannya. Sementara jika saya nyanyi, salah satu tanggapannya adalah “Sip, lumayan.” Tak apa, waktu itu saya belum “dewasa”. Suara saya masih belum berubah.

Begitu pula dengan para pemain musiknya. Misalnya pemain gitar, siapa bisa memainkan melodi sama persis dengan aslinya berarti dia hebat. Ada yang memainkan dengan rapi dan berkarakter malah dianggap jelek. Alasannya ya karena tidak persis. Waktu itu masih dianggap wajar.

Pikiran nakal saya bilang begini, “mungkin orang-orang saat itu pengen merasakan suasana artis yang mereka gemari dengan harga yang murah. Tanpa nonton konser pun mereka bisa merasakan kehadiran artis favorit mereka.” Hehe, ini pikiran nakal saja.

Sampai sekarang yang berusaha mirip dengan penyanyi asli juga masih banyak. Ambil saja contoh, penggemar Ebiet G Ade, Koes Plus dan The Beatless. Hampir semua yang menggemari para musisi itu selalu berusaha membawakan dengan persis. Suara yang tidak cempreng juga dicempreng-cemprengkan. Yang penting mirip. Suara nggak ada vibrasi pun dibuat ada vibrasinya. Buat saya, banyak kesan yang tidak natural. Kalau saya menggemari karya musiknya. Yang saya bawakan adalah karyanya. Kembali lagi pada selera, tak ada yang melarang. Ini juga cara mereka berekspresi.

Saya memahami musik sebagai cara berekspresi. Musik adalah kebebasan. Musik adalah jiwa dan rasa. Lalu kalau dituntut persis, apa masih bebas? Lalu juga, kalau dituntut harus beda apakah masih bebas? Hehe.

Sejak dulu saya sudah mencoba menilai segala hal dari segala sudut pandang. Di musik, saya melihat secara keseluruhan, pun saat membawakan. Pasti ada sisi lain yang bisa membuat sebuah lagu terdengar lebih baik.

Lain cerita ketika saya sudah akil balig, suara saya pun ikut berubah. Hampir setiap ada festival menyanyi saya ikuti. Saya belajar banyak dari setiap festival. Setiap penyanyi selalu dituntut untuk bisa menerjemahkan sebuah lagu menjadi sebuah pesan menurut gayanya sendiri. Bernyanyi adalah berkomunikasi. Setiap orang diberikan kemampuan alami untuk berkomunikasi, namun cara setiap orang pasti berbeda. Ini yang saya tangkap.

Ternyata sekarang selera masyarakat sudah berubah. Bagi saya, mereka sudah bisa merasakan mana yang baik dan buruk. Perlu saya tegaskan, ini bagi saya lho ya.

Indonesian Idol misalnya. Juri sering bilang, “Aku merasakan yang bernyanyi adalah ‘penyanyi asli’, bukan ‘kamu – kontestan’.  Cara nyanyi kamu masih seperti ‘penyanyi asli’. Cobalah kamu interpretasikan lagu itu dengan caramu sendiri. Itu baru bisa dikatakan penyanyi hebat.”

Nah, sudah ada perbedaan persepsi antara dulu dan sekarang. Pandangan Anda bagaimana?

Ilustrasi Musik dan Pertunjukkan Seni Peran

Coba bayangkan, Anda sedang menyaksikkan sebuah pertunjukkan seni peran seperti drama, drama musikal, teater, ataupun pantomim, tapi pertunjukkan itu tidak diiringi ilustrasi musik. Bagaimana pendapat Anda? Kalau Anda berkata “pasti jelek”, pendapat tersebut tidak seratus persen benar. Terkadang, cara dan bentuk penyampaian pesan pun bisa disampaikan, sekalipun tanpa suara maupun musik.

Apakah sebuah ilstrasi musik itu penting dalam sebuah pertunjukkan seni peran? Kalau menurut saya, sangat penting. Mengapa? Karena ilustrasi musik atau banyak yang menyebut dengan istilah music scoring itu akan mengiringi dan memberikan efek dramatis dalam sebuah adegan. Jadi, dengan adanya ilustrasi musik, sebuah adegan dalam rangkaian pertunjukkan akan lebih bernyawa dan memberikan efek imajinasi bagi para aktor dan penontonnya.

Bagi saya, music scoring bisa dianggap sukses ketika bisa menyatu dengan cerita/ adegan. Jadi, penonton bisa terhanyut dengan cerita, dan para aktor bisa berakting dengan mengesankan, tanpa merasa bahwa ada musik yang sedang mengiringi.

Itu hanyalah pendapat sekilas saya saja, tapi karena rasa penasaran dan ingin membuktikan kebenaran pendapat tersebut, saya mulai mengetikkan kata fungsi ilustrasi musik di mesin pencari Google. Beberapa artikel saya baca dan ada kepuasan, ternyata pendapat sesaat tersebut ada benarnya juga, hehe.

Pemberian ilustrasi musik dalam sebuah pertunjukan seni peran bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan memainkan alat musik secara langsung saat pementasan atau dengan mumutar audio/musik yang sudah direkam.

Proses Pembuatan Ilustrasi Musik

Kebetulan, beberapa saat yang lalu saya diundang untuk menyaksikkan pertunjukkan drama musikal, Beauty and the Beast. Kebetulan pula teman saya yang juga pemimpin redaksi Gosnells Audio, Garry Mailangkay menjadi penata musik dalam produksi drama musikal tersebut. Menurut saya, garapan musiknya sangat sukses. Sejak awal hingga akhir saya bisa terhanyut dengan penceritaannya.

Saya yakin kalau kesuksesan pertunjukkan itu tidak lepas dari peran ilustrasi musiknya. Sudah beberapa kali saya ikut berproses dalam pementasan drama, tapi sampai sekarang saya tak pernah tahu bagaimana proses penggarapan ilustrasi musik untuk sebuah pertunjukkan seni peran. Mumpung di drama musikal ini yang menggarap musiknya adalah teman dekat, kesempatan untuk berkepo ria tentang ilustrasi pun terbuka lebar.

film-composer-2

Dari beberapa pengalaman berproses dalam seni peran, saya sering mendengar cerita bahwa penata musik sering mengalami dilema ketika naskah yang akan digarap sudah pernah dipentaskan atau difilmkan, dan meraup sukses. Dilema karena sebuah pertunjukkan sukses pasti tidak lepas dari kesuksesan music scoring-nya juga. Ada kesulitan dan ketakutan tersendiri ketika penata musik akan membuat musik komposisi baru. Bukannya tak kreatif, tapi ya memang musik aslinya sudah sangat kuat karakternya. Ini semua adalah pilihan. Jalan tengahnya adalah mengaransemen ulang lagu-lagu dari film maupun operanya. Buat saya tak terlalu masalah mau memilih cara apa, yang penting seorang penata musik bisa membawakan musiknya untuk memenuhi kebutuhan pertunjukkan.

Cerita Beauty and the Beast sudah diangkat dalam bentuk film, kartun, dan opera Broadway. Semuanya sukses, termasuk dengan music scoring-nya. Untuk penggarapan drama musikal kali ini, Garry memilih menggunakan cara memainkan musik secara langsung untuk mengisi ilustrasinya. Dia memilih untuk mengaransemen ulang ilustrasi musik dari film dan opera broadway. Lho, kok tidak membuat komposisi music yang baru? Pasti dia punya alasan, dugaan saya, karena music scoring versi film dan opera Broadway sudah sangat kuat karakternya.

Bagi Garry, tak ada patokan harus bagaimana dan pakai alat musik apa. Hal paling penting dalam penggarapan music scoring adalah memahami naskah dan dinamika ceritanya. Dengan memahami naskah dan dinamika cerita, sang music director bisa membayangkan bagaimana ia akan memberikan nyawa cerita dengan isian musik. Kapan harus bermain cepat, lambat, keras, lembut. Tetapi, apakah permainan musik harus ada setiap adegan? Jawabannya tidak, karena diam (silence) pun adalah salah satu bagian dari ilustrasi. Inilah dinamika. Beri musik pada saat yang diperlukan saja. Jangan sampai seperti konser musik. Tetap harus diingat, tugas ilustrasi musik adalah  membantu pembentukkan perasaan, nyawa, dan suasana.

Hal kedua yang dilakukan seorang penata musik adalah membuat konsep dan aransemen. Mau musik yang bagaimana, dengan alat musik apa, siapa yang memainkan, imajinasi seorang penata musik bermain di sini. Sesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia. Jika memang harus memakai alat dan pemain musik dengan minimalis, bukan sebuah masalah! Bagus dan tidaknya sebuah komposisi musik tak selalu harus dari megahnya alat. Tips darinya adalah berikan catatan pada naskah. Tandai dan catatlah bagian-bagian yang diberi ilustrasi. Jangan sampai lupa, bagikan catatan pada semua anggota tim penata musik.

Tugas sang penata musik belum selesai, hal selanjutnya adalah bersinergi dengan semua tim produksi. Komunikasi dan latihkan semua konsep musik kepada semua tim (musik, aktor, sutradara, tim setting, penata cahaya, dan juga anggota tim yang menonton. Kenapa? Sekeras apapun seseorang membuat konsep, sebagus apa pun permainan musiknya, sehebat apapun para musisinya, kalau ada salah satu yang tidak nyaman, jangan dipertahankan. Misalnya, salah satu pemain musik tidak nyaman memainkan aransemen yang telah dibuat, atau mungkin ada aktor yang tidak mendapatkan emosi dari musiknya. Bahkan jika ada anggota tim yang tidak ikut bermain dan sedang menjadi penonton latihan, bertanya pada mereka juga penting. Siapa tahu ada yang merasa bosan. Di sinilah sang penata musik harus mencari alternatif lain agar semua bisa nyaman.

Banyak kendala bisa saja terjadi, sebisa mungkin seorang konduktor harus ada. Tidak harus berdiri membawa tongkat di depan pemusik, sambil duduk bermain musik pun bisa. Yang penting ada yang memberi aba-aba. Tugas paling penting seorang konduktor adalah memberi aba-aba pada para pemain musik agar lagu dan tempo bisa selaras dengan adegan.

Cukup banyak yang saya dapat dari cerita pengalaman Garry sebagai penata musik. Keingintahuan saya terobati. Semoga cerita pengalaman ini pun bisa jadi inspirasi bagi Anda yang akan menjadi seorang penata musik pertunjukkan seni peran.