Yang Penting Closing

Seorang bapak-bapak datang kepadaku dan berkonsultasi tentang masalahnya. Sebut saja namanya Pak Ngademi.

Dari yang kutangkap berdasar ceritanya, dia sebel sama orang-orang yang kebih muda darinya tapi sudah berani memberikan training dan coaching kepada orang yang lebih tua seperti Pak Ngademi. Bahkan beberapa waktu lalu, ada anak muda yang berani menawarkan training langsung ke dia.

“Dia ngga tahu kalau saya ini juga trainer. Mereka kan masih muda. Secara pengalaman ya pasti saya lebih kaya. Dia tuh masih bocah.” tukasnya dengan menggebu.

“Training apa, Pak?” Tanyaku penasaran.

Tanpa menatap wajahku, dia menjawab dengan agak sinis, “Ya macam-macam. Kan sekarang banyak sekali trainer muda yang sok menawarkan training dengan konsep baru. Banyak lho mereka yang hanya bersertifikasi lokal. Secara keilmuan dan kompetensi kan mereka belum terlalu dalam.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati aku bilang, “dasar orang tua!” Tapi sumpah, itu hanya kukatakan di dalam hati.

Aku mengenalnya sebagai praktisi pemberdayaan diri berbasis hipnosis dan mind technology. Kalau tidak salah, dia memang sudah mendapatkan sertifikasi praktisi kelas internasional. Pengalamannya memberikan pelatihan pun sepertinya sudah sangat banyak. Tapi aku tak sependapat dengannya tentang umur dan kompetensi.

Tak lama, Pak Ngademi bercerita tentang rencananya membuat bisnis baru. Karena tak tahu harus mengawali dari mana, banyak yang menyarankan untuk membangun brand terlebih dulu. Rupanya dia bermaksud untuk berkonsultasi denganku tentang brand. Namaku direkomendasikan oleh seorang temannya. Dia pun memintaku meng-coaching-nya untuk urusan membangun brand.

Sesaat aku pun langsung mengerutkan dahi. Bukankah baru saja dia berpendapat kalau kurang mempercayai orang yang lebih muda darinya? Duh, jangan-jangan memang wajahku sudah tampak lebih tua dari usia asli. Spontan kuambil ponselku untuk berfoto selfi. cekrekkk….! Kulihat hasilnya, ah.. wajahku tetap ganteng dan gagah seperti biasa kok.

“Pak, saya bukan seorang coach, lho.” Kataku lirih.
“Lho, saya kira mas ini coach. Kata mbak anu (orang yang merekomendasikannya kepadaku), mas ini coach.” Balasnya.

Aku merasa perlu menjelaskan kepadanya, “Saya memang pernah dan masih belajar ilmu coaching, pak. Namun itu pun saya pakai untuk mendukung profesi saya sekarang. Saya belum pernah ikut pelatihan coaching bersertifikasi apa pun, apa lagi yang internasional. Tapi kalau untuk brand building dan branding, kebetulan saya memang belajar tentang itu dan praktisi di bidang itu.”

Kami ngobrol banyak dan saling bertukar ide. Dengan faham human spirit seperti yang diajarkan dalam Marketing 3.0 dan Branding 3.0, aku berdiskusi dengannya tanpa ada satu pun kalimat yang mengarahkan pada jualan ataupun menawarkan sesuatu. Semua kunyatakan dengan kejujuran dan sikap human spirit.

Terakhir dia menanyaiku, “Kalau misal saya ingin brand saya dibuat seperti ini, mas Inunk bisa?”

“Bisa pak.” Sahutku dengan yakin.

**aku masih belum menanyakan apakah dia memang benar-benar ngga tahu kalau usiaku masih jauh di bawahnya. Biarin aja deh, yang penting udah closing.

Iklan

Antara Agama, Kepempimpinan, dan Prinsip Hidup

pexels-photo-54512-largeSeorang mahasiswa tingkat akhir dari sebuah kampus swasta di Jogja pernah melamar pekerjaan ke kantor saya. Dia melamar sebagai desainer grafis. Ketika melihat CV dan portofolionya, saya sangat terkesan. Saya langsung KLIK dengan gaya desain dan pemilihan kata yang dipakainya untuk menulis CV.

Dia langsung saya undang untuk interview. Yah, sebenarnya ngga resmi-resmi amat. Sebutannya saja interview atau wawancara kerja, padahal saya hanya ajak dia ngobrol santai sambil ngopi di sebuah cafe. Biar seperti kantor lain, proses interview perlu saya lakukan. Selain untuk formalitas, sebenarnya saya  juga mau tahu karakter dan motivasinya saja. Biasanya kan karakter seseorang bisa diketahui dari body language, micro expression, intonasi, dan pola tutur kata. Dan saya membenarkan teori tersebut karena waktu itu saya semakin terkesan dengannya. Belum lagi cerita tentang pengalamannya yang semakin merangsang saya untuk segera menerimanya sebagai salah satu tim. Apalagi gaji yang dimintanya pun masih logis dan masuk di anggaran saya.

Beberapa hari kemudian, saya putuskan untuk memanggilnya karena keputusannya adalah memilih dia sebagai tim saya. Pertemuan kedua ini bertempat di lokasi yang sama. Obrolan waktu itu terasa lebih santai. Setelah saya sampaikan kalau dia diterima, ekspresinya menyampaikan secara jelas kalau dia sangat suka bisa bergabung dengan tim saya. Beneran! Kalau kamu melihat ekspresinya, kamu akan merasakan energi kegembiraannya. Setelah dealing, dia mulai bercerita tentang kesibukannya berkegiatan di kampus. Saya pun tanpa canggung menceritakan beberapa hal terkait kehidupan sehari-hari, termasuk tentang kegiatan koor untuk tugas di gereja. Saking asyiknya, ternyata sudah 2,5 jam kami bertukar cerita. Cukup lama untuk ukuran orang yang baru kenal.

Kesepakatan waktu itu adalah dia akan mulai bekerja 8 hari kemudian. Selang 3 hari kemudian, dia mengajak saya bertemu. Sempat merasa aneh, ada apa kok tiba-tiba dia ingin ketemu. Katanya sih ada hal penting yang ingin dibicarakan.

Saya syok! Dia mengundurkan diri. Namun demikian, alasannya bisa saya terima. Lagi-lagi cara penyampaiannyalah yang membuat saya bisa langsung menerima alasannya. Pola berpikirnya juga menurut saya sangat menarik. Damn!! Saya ini praktisi hipnotis kok malah terhipnotis.

Begini ceritanya.

Sepulang dari pertemuan kedua, dia bergegas mengabarkan ke ayahnya bahwa dia sudah diterima kerja di tempatku. Di waktu bersamaan, ayahnya pun ikut bergembira. Tak lama kemudian, terjadi perbincangan antara mereka.

Karena sebelum mengirim lamaran, dia banyak cari informasi tentang saya. Segala pergerakan saya seolah terlacak olehnya. Mungkin dia juga akan membaca tulisan ini, entah itu di status fb ataupun di blog saya. Tenang. Sebelum mempublikasikan tulisan ini saya sudah minta izin ke dia kok.

Banyak hal yang diceritakannya kepada sang ayah. Menurutnya, si ayah suka dengan kisah hidup saya. Namun pas membahas satu hal, spontan jantungnya seperti berhenti berdetak. Ketika itu dia sedang membahas tentang agama saya.

Ini adalah masalah yang sangat sensitif bagi banyak orang. Apalagi kita juga pasti sering dengar isu SARA yang sering menyerang AHOK, gubernur Jakarta. Ngobrolin AHOK, di bagian akhir tulisan ini akan ada embahasan yang berhubungan dengan AHOK.

Karena tahu saya adalah seorang katolik, sang ayah melarangnya masuk kerja jadi tim saya. Si ayah berkata bahwa menurut agama yang dianutnya, ada larangan bagi mereka mengangkat pemimpin yang bukan dari kaum agama mereka. Hal ini sudah diatur secara jelas di dalam kitab suci mereka. Hhmmm.. saya pikir hanya di politik saja yang akan terjadi demikian, ternyata di dunia pekerjaan pun demikian.

Ini adalah sebuah prinsip yang tidak bisa saya paksakan. Di agama saya pun mungkin ada prinsip yang serupa. Mungkin agama saya juga mengatur larangan tidak boleh mengangkat pemimpin yang bukan dari agama kristiani. Saya bilang MUNGKIN karena terus terang pengetahuan saya tentang kitab suci agama saya tak terlalu bagus.

Calon tim saya itu sempat menyampaikan pemikirannya. Kurang lebih isinya seperti ini,  “Pemahaman saya kalau larangan mengangkat pemimpin harus dari orang yang seiman itu hanya kalau kami mau mencari pemimpin agama, di dalam konteks budaya tertentu. Saya berfikir bahwa konteks kepemimpinan seperti apa juga harus dipikirkan, tidak lalu dipukul rata.”

Kemudian saya tanyai dia, “Pendapat itu kamu sampaikan menurut pemikiranmu atau menurut kitab sucimu?”

“Menurut saya.” Timpalnya. Wajahnya tampak agak kesal.

“Saya yakin kalau ayahmu itu benar. Pendapatnya itu pasti punya dasar yang kuat.” Sahutku pelan.

Matanya terus memandang ke arah bawah. Biasanya ini pertanda kalau seseorang sedang bersedih. “Lalu aku harus kerja di mana? Hampir semua tempat kerja yang aku inginkan mungkin dipimpin oleh orang yang berkeyakinan lain.”

Saya tak bisa bicara banyak. Bukan ranah saya untuk memberi saran terkait agamanya. Jika di dalam agamanya terdapat ajaran demikian, saya anggap sangat wajar. Dari yang saya pahami, agama memang dibuat untuk mengatur pola kehidupan. Jika seseorang sudah memilih agama tertentu maka dia akan hidup dengan pola yang sudah ditentukan. Ini adalah sebuah pilihan bagi seseorang.

“Kamu sayang ayahmu?” tanya saya pelan.

“Sangat sayang.” Jawabnya lembut.

Tiba-tiba ada hal yang ingin saya tanyakan kepadanya, “Kamu percaya bahwa aturan agamamu bisa membawamu ke dalam hidup yang lebih baik?”

“Jelas percaya”, tukasnya.

“Bro, mematuhi perintah orangtua adalah bagian dari aturan agamamu, kan?”

“Iya, Mas”. Sambil menjawab, kepalanya terus menunduk. Ada jeda cukup lama setelah jawabannya tersebut. Tanpa diduga, dia membahas tentang AHOK dan PILKADA Jakarta. Dia menyambungkan pengalamannya dengan fenomena kepemimpinan yang terjadi di ibukota Indonesia itu, kurang lebih seperti ini.

“Seandainya saya warga Jakarta, dalam kondisi seperti ini saya pasti akan dilarang memilih AHOK sebagai gubernur. Alasannya jelas, AHOK berbeda keyakinan dengan saya. Namun kondisinya sekarang hampir tidak ada calon pemimpin berkeyakinan sama dengan saya, yang kualitasnya bisa disejajarkan dengan AHOK. Saya tak mau memilih pemimpin yang seagama, tapi kualitasnya tak bisa diandalkan. Cara kepemimpinan AHOK benar-benar baru. Saya sangat mengagumi gaya kepempinannya.”

Saya penasaran dengan kelanjutan pemikirannya, “Lalu apa yang akan kamu lakukan jika kondisinya seperti itu?”

“Saya tidak akan memilih siapa pun, saya juga tidak akan menganjurkan kepada siapa pun untuk memilih AHOK. Saya tak melanggar aturan apa pun dari agama saya. Tapi catatan pentingnya, agama saya tak pernah melarang saya mengagumi seseorang yang beragama lain.” Jawaban ini dia nyatakan dengan lantang sambil memicingkan mata.

“Kalau nantinya AHOK menang, apa yang kamu lakukan?”, saya pun semakin penasaran dengan jawabannya.

Jawabannya membuat saya terkejut heran. Begini jawabnya, “Jika memang AHOK memiliki kualitas, dia pasti akan memenangkan kompetisi. Selama dia punya tujuan baik dilakukan dengan cara baik pula, saya akan mendukung programnya. Yang penting tidak memilih dan menyarankan untuk memilih dia, saya tak melanggar apa pun. Saya pun tak akan menjelekkan dia karena agama dan etnisnya. Kalau saya menebar kebencian baginya, itu adalah larangan dalam agama saya. jika dia sudah jadi pemimpin, saya hanya akan membantunya. Membantu orang untuk kesejahteraan banyak orang justru disarankan di dalam agama saya.”

Di akhir obrolan, saya menyampaikan padanya untuk menjalani segala sesuatu yang sudah dipilihnya dengan totalitas. Saya yakinkan dia bahwa suatu kami akan bisa bekerja sama, bukan sebagai pimpinan dan anak buah, tapi sebagai tim ataupun mitra kerja. Saya berharap hal itu tidak dilarang di dalam agamanya. Namun apa pun itu, yang namanya prinsip hidup perlu kita jaga dan hormati.

Seusai obrolan serius ini, saya terdiam sejenak. Sepertinya ada jeda dalam pikiran saya. tak pernah sekalipun saya memiliki pola berpikir seperti dia. Bagi saya dia sangat istimewa. Kemauannya mematuhi aturan agamanya berbanding lurus dengan kecerdikannya mencapai tujuan.

Terima kasih sudah memberiku inspirasi, Bro.

 

Adik Saya Kena Tilang

Siang tadi adik saya ditilang oleh polisi pertigaan UIN Yogyakarta. Menurut versi polisi, adik saya ini melanggar lampu lalu lintas. Tapi kalau menurut versi adik saya, dia sama sekali tak melanggar karena lampunya masih kuning.

Berikut kuceritakan kronologi menurut versi my sister yes.

Adik saya dikejar dan diberhentikan lajunya oleh polisi di depan hotel Saphir Jogja. Tadinya adik saya itu baru dari kampus di daerah babarsari. Di sana si polisi bilang kalau adikku melanggar. Seperti biasa, polisi mau melihat surat-surat. Waktu itu adikku tetap menolak kalau dia melanggar. Karena surat-surat sudah di tangan, si polisi tak mau banyak bicara. Dia pun mengajak adikku ke pos polisi sambil bilang, “Silakan nanti dijelaskan di pos polisi”.

Kalau ajakannya seperti itu, saya pun akan punya persepsi kalau di pos polisi nanti saya bisa melakukan pembelaan diri. Tapi mungkin kamu yang sudah pernah mengalami kejadian semacam ini pasti akan tahu faktanya seperti apa.

Masih menurut versi adik saya. Di pos polisi dia sudah langsung dicecar dengan pernyataan dan tuduhan oleh polisi yang (mungkin) tidak melihatnya melaju di depan UIN.

“Pak, saya kan ngga melanggar apa-apa. Wong lampunya masih kuning.” kata adik saya.

“Kuning kepiye… merah..!” sahut si polisi dengan nada lumayan tinggi.

Singkat cerita, adik saya sama sekali tak bisa melakukan pembelaan karena menurut versi polisi, dia sudah pasti melakukan pelanggaran dan dikenai tilang. Di dalam pos polisi ada 3 polisi. Saya yakin sebagian besar orang, terlebih wanita akan merasa “terintimidasi” jika si polisi berbicara dengan nada tinggi dan seolah memaksa. Belum lagi dia disuruh menandatangai surat tilang yang sebenarnya tidak pantas untuk diterimanya. Dengan menandatangani, itu artinya adik saya otomatis mengakui kalau dirinya bersalah. Siapa yang tahu tentang hal ini? Si penindak pun tidak pernah memberi informasi. Adik saya pun harus menghadiri sidang di pengadilan Sleman.

Itu tadi cerita versi adik saya. Selanjutnya adalah cerita pengalaman saya. Otomatis menurut versi saya.

Sesampainya di rumah, adik saya itu cerita kalau habis ditilang. Karena merasa ngga salah, dia santai saja. Malah dia tanya letak di mana lokasi pengadilan Sleman.

Saya gemes. Kok masih ada OKNUM POLISI yang seperti ini. Dengan GAGAH, saya pun datang ke pos itu untuk mengkonfirmasi. Saya tak bertujuan meminta STNK adik saya kembali ataupun membatalkan sidang. Saya ke sana karena gemes. Tujuan saya adalah ingin tahu sebenarnya benar ngga sih penindakan yang dilakukan? Bagaimana sih pola pikir para OKNUM itu? Dan lagi saya ingin sampai si polisi mengakui kalau dia salah menindak.

Saatnya praktik! Apakah ini saya lakukan dengan semena-mena dan mentang-mentang? Nggak! Kali ini saya punya kepentingan karena ada pihak yang saya anggap sudah merugikan pihak saya dan adik saya.

“Selamat siang, nama saya Inunk. Saya berbicara dengan saudara siapa?” ini adalah ucapan yang terlontar pertama saat datang ke sana. Saya langsung bertanya nama karena dari ketiga polisi itu tak ada satu pun yang memasang namanya di rompi hijau khas polisi.

“Saya datang ke sini mau mengkonfirmasi tentang kesalahan adik saya. Apa kesalahannya?”

Dengan kepala tegak, si polisi menjawab “Adik Anda dikenai pasal sekian (saya lupa pasalnya) tentang ketertiban berlalu-lintas. Ada pelanggaran rambu.”

Saya balas dengan cepat, “oh, pelanggaran? Lampu apa yang dilanggar?”

“Anda kan orang berpendidikan, kalau melanggar itu lampu apa?” Sahutnya dengan agak bernada tinggi.

“Setahu saya, pelanggaran itu hanya lampu merah.”

“Nah itu, tahu.”

“Apa bener, dik?” Saya langsung konfirmasi ke adik saya.

Adik saya melakukan pembelaan. Dia tetap bilang kalau lampunya masih kuning. Saat itu pun dia tidak ngebut. Justru semakin pelan karena tahu lampunya kuning. Karena pas lampu menyala kuning posisi adik saya sudah hampir sampai di ujung lampu traffic light maka pasti laju kendaraannya masih sangat mungkin melewatinya. Lampu masih kuning. Logikanya, lampu kuning berjalan sekian atau sepersekian detik. Kalau misal posisi adik saya masih agak jauh, ya pasti wajib untuk sangat melambat dan menunggu lampu merah. Lha kalau pas lampu kuning, posisi adik saya sudah sampai di ujung batas lampu, gimana? Ini logikanya.

Dimulai dari sini, saya menemukan banyak kejanggalan. Tentu kesimpulan saya ini saya sampaikan atas dasar keilmuan yang saya pelajari; lie detector dan NLP. Tanpa melihat kejadiannya secara langsung, saya yakin kalau adik saya memang tidak bersalah.

Polisi yang mengejar adik saya tampak sangat ragu atas tindakannya. Saya tanya beberapa hal, dia juga menyampaikan beberapa hal yang berbeda. Sempat bilang kalau dia hanya melihat yang melanggar hanya adik saya. Tak ada orang lain lagi yang melanggar. Sempat pula bilang kalau sebenarnya ada yang lain, tapi dia hanya mampu menindak satu orang saja. Bola matanya bergerak berputar-putar. Bicaranya gagap. Ekspresi mikro yang tampak dari wajahnya semakin menandakan ada banyak keraguan darinya. Saat saya ajak reka ulang, dia tidak berani ngomong banyak. Bahkan malah pamit mau menjalankan sholat. Pas saya cek keluar, ternyata dia nggak sholat. Dia malah mainan HP di tempat yang agak jauh dari pos.

Polisi lainnya saya tanyai tentang kejadiannya. Dia tidak yakin pas kejadian ada di mana. Ada yang mengaku di tempat A, sesaat kemudian saya tanya ulang, dia menjawab ada di tempat B. Beberapa saat setelah itu saya tanya ulang, dia ada di tempat C. Saya mengkalibrasi jawabannya.

Polisi satunya saya tanya tentang peraturan lalu lintas. Polisi yang ini yang paling saya ingat. Badannya gemuk, tapi agak pendek. Kulitnya hitam, mukanya berminyak. Nada bicaranya agak tinggi saat bicara sama saya. Dia adalah orang yang menilang adik saya.

Meski nada bicaranya tinggi, dia tak mau memandang ke arah saya. Dia seolah mengalihkan pandangan ke ponselnya. Saya anggap dia pura-pura sibuk dengan ponselnya. Pertanyaan demi pertanyaan saya ajukan, dia kesulitan menjawab karena mungkin tidak menguasai materi. Saya pasti bertanya banyak karena menurutnya, kalau polisi sudah menilang itu artinya adik saya sudah pasti melakukan pelanggaran.

Dengan kata lain, polisi yang menindak pasti benar. Pernyataan ini saya simpulkan berdasarkan obrolan kami tadi.

Hhhmm memangnya materi apa yang saya tanyakan kok sampai dia seolah nggak menguasai materi? Tentang peraturan lalu lintas, prosedur penindakan, proses tilang, dan proses sidang.

Sebagian besar jawabannya adalah:

“Silakan ditanyakan di pengadilan.”

“Itu hak Anda.”

“Kami hanya melakukan penindakan berdasarkan bukti pelanggaran.”

Jawaban ketiga itu yang  lalu menarik untuk saya tanggapi,

“Bukti? Apa buktinya?”

Dia tak bisa menjawab dengan lancar. Saya anggap jawabannya itu mengada-ada. Ya, banyak hal yang perlu saya tanyakan karena selama ini saya belum pernah tahu ada orang yang bisa bebas ketika dihadapkan di persidangan. Silakan koreksi saya jika salah. Anggap saja saya yang belum tahu. Ketika kita (dianggap) tak berhak melakukan pembelaan di hadapan polisi penilang, apakah bisa kita melakukan pembelaan di persidangan? Dari pengalaman saya, kita tak bisa melakukan pembelaan di persidangan. Ada banyak faktor kenapa kita tidak bisa melakukan pembelaan di persidangan.

Pertama, saat mendapatkan surat tilang, biasanya kita sudah bertanda tangan di atas surat tilang tersebut. Itu artinya kita sudah mengakui kesalahan. Jangan percaya dengan kabar kalau kita tidak mengakui kesalahan lalu minta slip biru ya. Itu HOAX. Slip biru itu kita memang bisa membayar ke BRI, tapi bukan dengan transfer. Justru kita harus bayar ke bank yang sudah ditunjuk. Nominalnya pun lebih besar karena pasti akan dikenai denda maksimal. Dengan bertanda tangan, itu artinya kita sudah mengakui kesalahan. So, kalau tidak mau mengakui kesalahan ya ngga usah mau tanda tangan.

Kedua, hakim punya kuasa untuk bilang “Kamu ini salah kok masih mau membela diri. Mau menerima atau saya tilang dengan denda maksimal?” Tentu tidak semua hakim yang akan bilang seperti itu.

Huft. Panjang juga ya.

Masih ada cerita lanjutannya. Setelah ketiga polisi muda yang ada di dalam pos tadi, saya menemui polisi yang lebih senior. Berdasar informasi dari si polisi gemuk dan hitam tadi, polisi senior ini adalah petugas dari Polda DIY. Anehnya, ketiga polisi muda tadi ngga tahu siapa nama polisi senior yang kebetulan bertugas bersamaan di satu lokasi. Ya mungkin nggak harus selalu kenal karena memang personil polisi juga sangat banyak. Tapi kan waktu itu mereka sedang bertugas bersama dalam satu lokasi. Mosok sama sekali nggak tahu namanya. Bagi saya itu aneh, tapi bagi mereka hal itu wajar.

Saya ngobrol banyak dengan si polisi senior. Pada akhirnya dia mengakui banyak hal bahwa ada banyak kelemahan di kepolisian, terlebih di bidang lalu lintas. Itulah sebabnya kita tak bisa lagi “bayar di tempat”, baik yang resmi maupun yang ilegal. Kalau dulu bisa “titip sidang”, sekarang sudah tak lagi bisa. “Kalau ada yang masih minta bayar di tempat atau titip sidang, silakan dilaporkan saja mas.”

Akhirnya sempat ada keraguan darinya atas kebenaran penindakan yang dilakukan rekannya. Tapi karena surat tilang sudah terlanjur ditandatangani, dia sudah tak bisa berbuat banyak. Dia menyarankan, besok lagi kalau kita tidak merasa salah ya jangan mau tanda tangan. Urus dan proses sampai selesai di pos polisi atau di lokasi razia.

Di ujung percakapan kami, dia pun minta maaf. Tujuan saya sudah tercapai. Saya pun pulang dengan hati gembira.

Yup. Adik saya harus menghadiri sidang. Tenang, dik. Sidangnya nggak lama kok. Paling nggak sampai satu menit. Yang lama hanya antrenya saja. Nanti kalau namamu udah dipanggil dan disuruh duduk di kursi dan hakim cuma baca putusan. Setelah itu kamu tinggal bayar di loket ataupun tempat yang sudah disiapkan.

Adik saya lalu menanggapi dengan nada mangkel “Kuwi sidang apa e?”

Saya hanya ketawa lalu mbatin. Ya memang seperti itu faktanya.

Apakah ada dari Anda yang pernah bisa bebas setelah sidang tilang?

Kerja Remote vs Kerja Kantoran

Saya pernah merasa nyaman kerja dengan model remote. Meskipun kerja tim, tapi kami tidak bertatap muka. Saya di mana, tim saya di mana… jaraknya mungkin bisa puluhan bahkan ada yang ratusan kilometer. Semua sirkulasi dari pemberian materi, diskusi, dan penyerahan hasil pekerjaan selalu kami lakukan dengan bantuan internet.

Kira-kira begitulah maksud dari kerja remote. Sudah bisa memahami kan?

Rasa nyaman yang utama adalah karena saya tidak perlu menyediakan tempat, menyiapkan makan, memberi fasilitas komputer juga koneksi internet. Ada juga yang saya kasih gaji bulanan, ada juga yang saya bayar per proyek. Pokoknya sebagian besar alasannya adalah seputar efisiensi biaya. Alasan terbesar kedua adalah biar suasana kerjanya lebih santai dan nyaman serasa di rumah.

Ternyata saya salah mengira. Kalau proyek masih jarang-jarang, kerja remote mungkin jadi pilihan yang OKE. Namun, kalau proyek sudah kontinyu justru kerja dengan model remote justru kurang efisien.

Hampir satu bulan ini kantor saya resmi sudah beroperasi. Suasananya saya rancang sesantai mungkin seperti di rumah. Kerja pakai kaos oblong dan celana pendek pun boleh, bahkan mau pakai sarung pun juga bisa. Nggak ada yang melarang.

Semua benar-benar kami ulangi dari awal. Istilah kerennya adalah “babat alas”. Saya masih mencari pola yang tepat untuk kami pakai sebagai acuan. Tentu Anda bisa membayangkan yang tadinya kerja tim secara jarak jauh, sekarang sudah bertatap muka. Pasti beda.

Meskipun tetap masih ada anggota tim lainnya yang berkarya dengan model remote, saya sudah mulai membiasakan diri bekerja sama dengan tim yang bertatap muka.

Kok ndilalah kali ini saya sangat beruntung mendapatkan anggota tim yang JUOOSSSS. Sampai-sampai saya sempat kedodoran mengikuti ritme kerjanya. Cepet banget. Bukan salah saya dan bukan salah dia. Kami hanya kebetulan punya cara dan ritme yang berbeda.

Sebagai leader, penting bagi saya untuk bisa mengimbangi ritme yang ternyata sangat jauh berbeda dengan pola kerja remote yang saya pakai sebelumnya. Biaya operasional jauh lebih murah karena kami juga bisa mendapatkan omset yang berkali-kali lipat.Ternyata dengan bertatap muka, saya bisa menjelaskan detail pekerjaan dengan lebih cepat dan akurat sehingga delegasi pengerjaan pun jadi lebih teliti.

Selamat datang di era baru APIKIN Branding Agency dan SAE Digital Agency. Kami niatkan untuk berkontribusi bagi nusantara dan alam semesta.

Mau bergabung dengan kami?

Menulis Buku Untuk Apa?

Apa benar kalau ada teman yang baru saja me-launching buku, kamu lalu akan membeli buku itu?

“Iya, dong.”

Apa alasanmu beli buku itu?

“Pertama, kita harus mengapresiasi karyanya. Kedua, saya kan teman, ngga enak kalau ngga beli.”

Apresiasi itu apakah sebagai wujud penghargaan sebuah karya yang ia buat?

“Iya.”

Setelah kamu beli buku itu, apakah kamu yakin akan membacanya?

“Belum tentu. Tergantung dari isinya. Kalau menarik ya akan saya baca, kalau ngga menarik ya buat koleksi aja.”

Memangnya kamu ngga preview dulu isinya bagaimana?

“Itu belakangan aja. Yang penting saya udah punya bukunya.”

Wew, apa itu wujud apresiasi dan menghargai kalau kamu sebenarnya tidak yakin?

—–

Percakapan di atas adalah dialog imajiner yang tiba-tiba terlintas di pikiran saya. So, jangan dianggap sebagai sebuah fakta walaupun sebenarnya kejadian di percakapan itu adalah realita.

Saya cukup selektif jika akan membeli buku. Beberapa alasan terkuat saya membeli buku adalah karena perlu dan suka. Sepertinya saya hampir tak pernah membeli buku hanya karena sungkan karena sudah ditawari si penulis.

Kalau sudah tahu kapasitas penulis dan cara penyampaian si penulis, mungkin tak perlu pikir panjang untuk membeli buku. Namun, bagaimana kalau ternyata saya sendiri belum terlalu tahu kapasitas si penulis dan belum pernah mencicipi rasa tulisannya?

Desain cover memang cukup membuat calon pembaca tertarik, namun melihat daftar isi dan cara penulisan juga sangat penting untuk kulihat sebelum memutuskan beli. Biasanya di toko buku memang ada contoh buku yang bisa dibaca. Jika mau beli secara online, biasanya ada review tentang buku itu. Minimal saya cari tahu tentang sosok penulis dan beberapa contoh tulisannya. Jangan sampai aku malah menyiksa diri dengan menyiakan uang untuk membeli buku yang takkan pernah kubaca.

Alasan lain untuk selektif adalah jangan sampai aku menipu si penulis. Si penulis kan berkarya melalui tulisan. Sudah sepantasnya pula aku membeli buku karena memang butuh atau bahkan karena memang suka dengan tulisan maupun cara berpikir si penulis. Kalau sampai aku membeli buku hanya karena ngga enak, apa itu aku masih menghargai karya?

Bagaimana dengan si penulis, apakah sudah menghargai karyanya sendiri?

Terkadang karya tulis sudah disiapkan sepenuh hati karena memang punya semangat berbagi ilmu dan mengembangkan diri. Saya yakin jika ada penulis yang menerapkan cara ini, karya tulisnya akan cukup bernilai. Saat penulis menerapkan semangat ini, besar kemungkinannya dia akan berhasil karena sama sekali tak ada kemelekatan dan paksaan untuk membuat tulisan yang bagus dalam waktu tertentu. Kalaupun ternyata hasil akhirnya menjadi bagus dan ditulis dalam waktu yang cepat, itu semata-mata memang karena kemampuan si penulis yang sudah mumpuni.

Ada juga yang menulis dan menerbitkan buku atas dasar kepentingan bisnis dan tuntutan komunitas. Mungkin ada yang bisa berhasil membuat karya yang istimewa karena memang sudah terlatih menulis. Namun, mungkin juga ada yang kurang berhasil. Dugaan saya, sebenarnya si penulis belum siap, baik dari materi maupun kemampuan menulisnya. Belum lagi pasti ada kesibukan lain yang harus dipenuhi.

Tak ada yang salah dari kedua hal di atas. Semua benar jika dilihat dari sudut pandang masing-masing. Namun menurut saya, menulis buku perlu menyesuaikan antara cara dan tujuan untuk apa saya menulis.

Saya sendiri sampai sekarang sudah menulis sekitar 8 buku karena memang waktu itu saya masih gencar menekuni profesi sebagai seorang ghostwriter. Yup, otomatis semua buku yang saya tulis itu atas nama orang lain karena tujuan yang ingin saya capai adalah pendapatan dari jasa penulisan.

Saya Modus, Ternyata Si Mamah Juga Modus

Peristiwa ini terjadi tadi sore. Pas saya lagi ngobrol sama teman di sebuah cafe sekitar Seturan, Jogja, tiba-tiba ada anak kecil kira kira umurnya 3tahun, mampir ke mejaku. Dugaanku, dia mampir ke meja karena heran ada laptop di atas meja.

“Halo dik. Tos sama om dulu!” sapaku.

Dia pun membalas ajakan tosku.

Aku tanya dia, “namanya siapa, dik?”

“Boy” jawabnya.

Kutanya lagi, “Boy sama siapa tadi?

“Sama mama” jawabnya.

“Mana mamanya?” tanyaku penasaran karena sepertinya ngga ada yg sedang memperhatikan dia.

Dia pun menunjuk seorang wanita cantik. Kira-kira 3 meja di depan meja yg kupakai. Wanita itu sedang asyik ngobrol sama 2 mbak-mbak. Mungkin temannya.

Wow, uayuneee…! Lha piye wis, ibunya boy tuh cantik dan seksi banget. Terlalu eman kalau godaan ini terlewat begitu saja.

Otak buayaku mulai bergejolak. Lha gimana ngga bergejolak, ada seorang mamah-mamah muda (mahmud) cuantik, tapi lagi ngga sama suaminya. Harap dimaklumi, dulu saya pernah jadi idola banyak wanita. Sudah lama saya pensiun dari dunia perbuayaan. Badan saya sudah melebar. Tapi ini bukan gemuk. Ini GAGAH.

Ngga ada niat balik lagi ke dunia perbuayaan kok. Ini cuma mau nostalgia aja hehe.

Dengan sedikit hewes..hewes, kutarik perhatiannya dengan menggendong si boy. Dengan begitu kan otomatis perhatian si mahmud akan tertuju ke saya. Modus

Nah! Bener kan. Dia langsung mendatangiku dan minta maaf. Tak lama dia kuajak duduk sambil ngobrol lamis. Aku sudah tahu namanya. Ngga lama kemudian dia sedikit memarahi boy karena mainan gelas minumanku.

“Boy, jangan buat mainan, itu punya om. Mbak ngga suka ah.”

Saya kan langsung kaget. Kata boy tadi dia mamanya, eh kok panggilnya mbak?

Penasaran dong. Langsung kutanya, “Oh saya kira mbak ini mamanya, soalnya tadi si Boy bilang kalau ke sini sama mamanya. Tadi juga pas kutanya mana ibunya, dia nunjuk kamu hehe.”

Dia pun bilang “oh, boy udah bilang ya, Mas? hehe”

“Iya, lha memangnya gimana to?” begitu sahutku.

“Bener kok, saya memang mamanya. Saya tadi salah nyebut mas hehe.” Jawabnya dengan nada yang kurang yakin. Pun dia agak mesam-mesem menjelaskannya.

meme panggil apa

Ngga tahu bener atau ngga, tapi saya langsung curiga jangan-jangan kejadian ini mirip seperti meme di atas ya? Kebetulan aja si anak keceplosan kasih tahu ke om ganteng ini.

Kalau ternyata si mama tadi beneran mau modus sama saya, itu artinya cerita seperti meme di atas ini memang ada di kehidupan nyata haha..

rapopo.. aku wis entuk nomere kok..

Bias Pikiran Memandang Kehidupan

Beberapa waktu lalu ada beberapa teman FB-ku mengupload kegiatannya. Tampaknya seru! Betapa bahagianya jika aku bisa seperti mereka.

Tiba-tiba saja aku merasakan sedih bahkan sampai meneteskan air mata. Dalam hati aku bilang pada diriku sendiri, “aku ingin seperti mereka, bagaimana caranya agar bisa punya kegiatan seru dan membanggakan? Kenapa yang kulakukan tidak bisa seperti mereka?”

Tanpa disadari, ternyata aku sedang berada di dalam keadaan mendiskon diri. Di dalam kondisi ini aku sedang menganggap diriku lebih rendah dari persepsi orang lain. Seperti ada pepatah; Rumput tetangga lebih hijau. Begitu caraku memandang waktu itu.

Saat sedang asyik merasakan kegalauan tersebut, salah satu temanku itu menghubungi via WA. Entah sihir apa yang menyambungkan pikiran saya ke pikirannya. Mungkin alam semesta sedang merespon. Dia mengajakku bertemu untuk membahas peluang kerja sama. Wow! Ini di luar dugaanku.

Di sela-sela pertemuan itu, dia curhat tentang kehidupan dan kegiatannya. Perjalanannya tak seperti yang terlihat. Perasaannya tak seperti senyumannya. Aku langsung lesu dan menyesai persepsiku tentang dia. Mendengar ceritanya, ternyata persepsiku tentang dia tak seperti yang benar-benar dia rasa dan alami. Secara tak langsung aku sudah menuduhnya dengan persepsiku.

Bersamaan dengan itu, satu kawanku ikut bergabung dan datang ke tempat itu. Kedatangannya juga tak disengaja. Kami bertemu di sebuah tempat yang sama. Kami berbincang sejenak untuk menyamakan frekuensi pikiran. Entah apa pemantiknya, dia lalu membahas dan menanyakan tentang kegiatanku, kisah cintaku, kegembiraanku, dan lain-lainnya. Semua itu dia sampaikan berdasarkan apa yg dilihatnya melalui media sosial. Ini persis seperti yang kupikirkan sebelumnya.

Dia menganggapku mempunyai kegiatan yang seru dan asyik. Begitu pula kehidupanku; menyenangkan di matanya. Dengan terang dia bilang kalau ingin seperti aku.

Seperti itukah aku di matanya? Sementara aku sendiri merasakan ada cukup banyak ketidakpuasan terhadap diri dan yang kualami. Baginya aku adalah orang yang sukses, periang, dinamis, perlente, dan masih banyak lagi. Realitanya tidak seperti yang dia pandang. Banyak rasa sakit dan kepahitan yang kualami. Utang, sedih, penolakan, kaku, pertengkaran, dan masih banyak hal tak enak yang pernah kualami.

Ternyata hidup yang kukeluhkan ini adalah hidup impian bagi orang lain.

Untuk keduakalinya aku tertunduk lesu dan merenungi tentang cara pandangku. THE MAP IS NOT THE TERRITORY; Apa yang dilihat bukanlah sebuah realita. Apa yang dilihat orang terhadap kita bukanlah sebuah realita. Apa yang kita dari orang lain juga bukanlah realita. Pun dengan apa yang kita lihat terhadap diri kita sendiri juga bukanlah realitanya.